Selasa, 23 Juni 2009

Life is Excellence...

Greatful...!!yaehhh

Hidup ini begitu luar biasa, menjadi orang yang apa adanya, it makes me enjoy to do everything.
ya, begitulah seharusnya kita bersikap, dari hati lah cerminan perbuatan kita, tidak ada yang dibuat-buat, natural.. tidak ada kemunafikan di dalamnya..

Short term
Dalam jangka pendek hal itu akan membuat resistensi terhadap perubhan itu. Namun, semakin lama kita akan menikmatinya but don't forget principal of your life, it must consistent.!!
membangun karakter adalah suatu keharusan bagi kita, rata2 orang yang hebat memiliki sifat dan karakter yang unik dalam hidupnya, ia berbeda dari orang kebanyakan, seperti titik putih di kertas yang hitam. berani berkata tidak karena ia memang salah, dan berkata benar jika itu benar.

Long term
pada dasarnya strategi jangka pendek yang telah kita ciptakan, akan tercermin dalam perbuatan kita kedepannya. dan itu memerlukan effort yang luar biasa untuk menjaganya. Cobaan pasti akan ada di tengah proses itu. but, you must moving forward brother..

Because life is Exellence..

Kamis, 25 Desember 2008

Pemerintah Melakukan Kebijakan Menaikkan BI Rate



Dilematis, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kebijakan yang telah pemerintah lakukan belum lama ini. Padahal dalam beberapa bulan belakangan ini BI rate sempat bertahan pada kisaran 8% dan sekarang telah menyentuh level 9,5%. Hal ini telah menimbulkan banyak pro-kontra di dalam masyarakat, ada yang menilai kebijakan ini dapat menguntungkan dan ada juga yang menilai kebijakan ini sangat merugikan bagi masyarakat Indonesia pada khususnya. Hal yang sangat sederhana dapat kita katakan bahwa, kebijkan ini harus dilakukan untuk menekan laju inflasi yang amat tinggi, di sisi lain, hal ini akan berdampak buruk bagi investasi, karena akan menurunkan
jumlah masyarakat yang ingin meminjam uangnya ke bank, karena membengkaknya jumlah interest yang harus dibayarkan, tentunnya jika interest diberlakukan secara floating, karena pada umumnya bank-bank memberlakukan sistem bunganya secara floating.


Namun, jika kita lihat relevansinya dengan likuiditas perbankan, maka kebijakan ini dapat dikatakan melenceng dari realitas moneter yang ada, karena akan semakin mencekik likuiditas perbankan dan secara otomatis akan membuat bunga suku bunga semalam (overnight) lebih tinggi lagi. Sementara itu, ekonom PT BCA Tbk David Sumual mengatakan bahwa likuiditas perbankan yang cenderung seret saat ini sebenarnya disebabkan oleh banyaknya dana pemerintah yang disimpan di BI. Ia menceritakan, pada awal tahun 2008, dana pemerintah yang parkir di BI sebesar Rp 70 triliun hingga Rp 80 triliun. Bahkan pada Juni lalu, dana pemerintah membengkak menjadi sebesar Rp 147 triliun. Hal itu berarti akan berdampak serius pada bank-bank yang mempunyai kesulitan likuiditas yang akan semakin terbebani ketika melakukan pinjaman antar bank. Belum lagi dampak besar yang dipastikan melanda sektor riil, ketakutan untuk meminjam uang karena interest yang tinggi akan membuat dunia usaha
tertekan, walaupun usahanya disetujui untuk dijalankan namun, para pengusaha harus berpikir ulang karena bunga kredit yang tinggi dan dikhawatirkan tidak sanggup membayar cicilan bunganya, dalam jangka panjang, hal ini akan menimbulkan noan performing loan (kredit macet) bagi usaha-usaha yang modalnya berasal dari pinjaman bank. Hal ini pun akan berdampak pada melemahnya nilai ekspor, walaupun harga barang impor kita akan naik, tetapi permintaan akan impor barang dari negara-negara lain menurun karena menguatnya dolar terhadap mata uang negara tersebut. Belum lagi, masalah Surat Utang Negara (SUN) yang harganya mengalami keterpurukan di pasar uang, sehingga berdampak pada banyaknya orang yang melelang SUN dibawah harga yang sepantasnya, karena dikhawatirkan BI rate akan kembali naik sehingga semakin lama SUN tidak adanya nilainya. Hal ini lah yang harus diperhatikan dan dicermati oleh pemerintah dan BI dalam menentukan kebijakan.


Di sisi lain, inflasi yang tinggi menjadi alasan utama naiknya BI rate ini, pemerintah dan BI berasumsi bahwa keputusan menaikkan BI Rate ini dilakukan dengan memperhatikan resiliensi sektor keuangan khususnya perbankan dan diputuskannya setelah melihat angka inflasi yang naik cukup tajam pada September menjadi 0,97 persen serta laju inflasi tahun kalender dari Januari-September 2008 mencapai 10,47 persen sementara (yoy) year on year sebesar 12,14 persen. Jika melihat angka inflasi bulanan dan tahunan, kebijakan ini dinilai tepat karena dapat menyerap uang yang beredar di masyarakat sehingga diharapkan mampu menekan laju inflasi kedepannya. Pada dasarnya, laju inflasi
yang tinggi ini sedikit-banyak dampak dari kenaikan harga BBM, yang tentunya menyebabkan harga barang-barang pokok (kebutuhan primer) naik, seperti beras, elpiji, BBM, gula, makanan, buah-buahan dan lain-lain. Dengan demikian hal berdampak pada perhitungan fixed basket dalam barang-barang pokok untuk menghitung angka inflasi yang riil. Sementara itu, desakan IMF terhadap Indonesia untuk kembali menaikkan BI rate menjadi 10,5 % dalam menghadapi situasi krisis global ditanggapi miring oleh pemerintah karena sampai saat ini hal itu belumlah terlaksana, sebenarnya, untuk menekan laju inflasi ini pemerintah dapat melakukan intervensi terhadap barang-barang pokok, sehingga diharapkan mampu menekan harga di masyarakat dan mampu mengendalikan harga kebutuhan pokok di pasaran. Desakan IMF perlu disikapi hati-hati oleh pemerintah, jika harus menaikkan BI Rate hingga 10,5 persen, suku bunga akan sangat tinggi nantinya. Akibatnya tidak ada ruang bagi pertumbuhan dunia usaha dan pemulihan sektor riil. Belum lagi wacana pemerintah menurunkan harga BBM, jika hal itu terlaksana, maka akan semakin baik dampaknya terhadap masyarakat menengah kebawah dan Usaha Kecil Menengah (UKM), kemudian daya beli masyarakat akan meningkat, seiring dengan menurunnya harga barang di masyarakat akibat dari biaya transportasi atau pengangkutan yang berbiaya lebih rendah. Tidak perlu banyak pertimbangan lagi, karena jika kita berkaca kepada Malaysia, mereka telah menrunkan harga BBM-nya dua kali, sementara Indonesia sampai saat ini belum menurunkan harga BBM. Padahal dalam APBN perubahan asumsi harga minyak telah USD 120/ barel, namun harga saat ini telah menyentuh level USD 80/ barel. Melihat dari penurunan yang cukup signifikan tersebut, seharusnya pemerintah segera merespon dengan menurunkan harga BBM. Hal itu tentunya akan berakibat terhadap penurunan harga, penurunan inflasi, dan pemerintah tidak perlu lagi menaikkan BI rate, sehingga diharapkan kedepannya iklim investasi dapat tumbuh dengan cepat.


ksatrialingga_sang inspirator

ketidakpastian..

bismillahrahmanirrahim..

sebuah kata sebuah dilema, kenapa harus terjadi dalam hidupku ini. problem of choice yang diakibatkannya begitu dahsyat. Ditengah keharusan untuk berbuat sesuatu yang benar, kita dituntut untuk dapat merencanakan yang benar pula, karena gagal merencanakan berarti merencanakan sebuah kegagalan.

iktikharah, minta nasihat, sampai melihat orang2 yang telah melakukannya, sedikit membuka jalan untuk mempersempit pilihan dan membuat kita lebih fokus pada beberapa hal. itulah dilema yang terjadi antara melanjutkan MSS (management Student Society) dan hijrah ke BEM-FEUI.

Sebenarnya kalo kita pikir2 apa sih yang kita cari? kalo hanya mencari popularitas semata, kita akan menjadi mahasiswa pragmatis saja, ngk ada gunanya. hanya satu yang kita cari, keridhoan Allah dan upaya kita terus belajar untuk memperbaiki diri tentunya. gampang kalo cuma nulis dan ngomong, implementasi-nya yang paling penting bung.

ksartrialingga_sang inspirator

Kamis, 18 Desember 2008

uhh..selesai juga UAS-nya

Alhamdulillah, selesai juga...
berikan yang terbaik untuk hasil UAS-ku ya Allah.

Pengantar Teknologi Informasi, Marketing, CSR, Mikroekonomi, Pasar dan Lembaga Keuangan, Pengantar Manajemen sains, dan yang paling dahsyat, Cost Accounting,.

masih banyak banget kekurangan dalam hal ikhtiar, masih ada rasa malas yang perlu dihilangkan total dari dalam diri ini. tapi terlepas dari itu, makasih banyak buat temen2 semua, udah belajar bareng (share knowlegde), ngebantu banget.. sampe nginep2 segala di KUTEK..wuih, seru juga.. pressure-nya.

takut banget kalo IP sampe turun..hiks2,. sekarang tinggal nunggu nilai keluar...tapi sebenernya belum bisa liburan total, kerjaan masih banyak,,lpj menanti, demisioner, sama approach sana-sini, ya konsolidasi lah...

tetep smart n smangat pokoknya..

ksatrialingga_sang inspirator


Jumat, 12 Desember 2008

Sudah Sepatutnya Pemerintah Menurunkan Harga BBM hingga Rp4.000-Rp4.500


Taukah anda berapa harga minyak mentah dunia saat ini ?

haraganya : $46,84/barel
(www.oil-price.net)
Jum'at, 12-12-2008 pukul 10.53 a.m

Ketika pemerintah menaikkan harga minyak Rp 6.000, asumsinya (APBN) harga minyak dunia adalah $120/barel, nah apalagi sekarang yang sudah hampir 3 kali lipat penurunannya.

Menurut DR.Kurtubi (ahli perminyakan), dampak dari pemerintah menurunkan harga BBM sangatlah banyak (mutiplier effect) dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk subsidi. bayangkan, disaat ekonomi sedang sulit seperti ini, maka ketika harga minyak turun, maka sektor riil, UMKM, dll akan tumbuh dengan cepat, kemudian perekonomian akan kembali bangkit.

oleh karena itu, kita tunggu kebijakan pemerintah selanjutnya, jangan sampai dipengaruhi oleh unsur2 politis. ini semua demi kesejahteraan rakyat..
hidup rakyat indonesia..

ksatrialingga_sang inspirator

semangat untuk UAS..

bismillahirahmannirrahim...

UAS sedang berlansung, disinilah salah satu aspek masa depan-ku ditentukan. Mendapatkan nilai yang bagus tergantung dari usaha, niat, dan do'a kita tentunya. bagi saya, sekarang inilah waktu yang tepat untuk benar-benar serius karena momen ini hanya ada sekali dalam hidup kita, momen dimana kita tidak akan bisa mengembalikan waktu untuk belajar. serius amat ling, hhe..

oke deh, mudah2an hasil UASnya maksimal..amiin
mohon do'anya..

ksatrialingga_sang inspirator

Rabu, 23 Juli 2008

Penduduk Miskin meningkat 6,74 juta setelah harga BBM Naik !!!!


sebuah artikel asli M Lingga Naashiruddin
u/ Lomba Artikel Kemiskinan


Kemiskinan selalu menjadi masalah fundamental dan fenomenal sepanjang sejarah Indonesia sebagai nation state, sejarah sebuah negara yang salah memandang dan mengurus kemiskinan. Dalam negara yang salah menginterpretasikan kemiskinan, tidak ada persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan telah membuat jutaan anak bangsa tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas dan layak, kesulitan membiayai kesehatan, minimnya simpanan (tabungan), tidak adanya investasi, kurangnya akses ke pelayanan publik, sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, dan yang lebih parah lagi, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan secara layak (krisis pangan).

Bappenas mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Kemiskinan, menyebabkan masyarakat rela mengorbankan apa saja demi keselamatan hidup, safety life (James. C.Scott, 1981), mempertaruhkan tenaga fisik untuk memproduksi keuntungan dengan menggunakan cara apapun untuk bertahan hidup. Hal ini jelas berdampak pada angka kriminalitas masyarakat yang tinggi, terutama untuk daerah perkotaan.

Kemiskinan menjadi momok menakutkan bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang positif tidak menjadikan negara terbebas dari pengurangan jumlah penduduk miskin. Parameter pemerintah, World Bank, dan BPS pun berbeda, mereka semua mengeluarkan versi terhadap parameternya masing-masing, bagi masyarakat awam, hal ini akan menimbulkan kerancuan dalam penerimaan informasi dan pengolahan data selanjutnya. Pemerintah selalu berusaha mengurangi jumlah masyarakat miskin, tapi pada kenyataannya, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) semakin bertambah banyak. Walaupun Pertumbuhan Ekonomi Indonesia selalu berada diatas 6% untuk beberapa tahun belakangan ini, inflasi yang tinggi pada kuartal II tahun 2008 (11,2%) membuat semuanya seakan sia-sia. Inflasi yang menurut sebagian besar pengamat disebabkan karena cost-push inflation dimana biaya produksi barang dan jasa naik karena meningkatnya beban produksi akibat kenaikan harga BBM.

Data terkini BPS menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin hingga Maret 2008 sebesar 34,96 juta orang atau setara 15,42 persen, angka tersebut mengalami penurunan sebesar 2,21 juta bila dibandingkan pada Maret 2007 yang mencapai 37,17 juta atau setara 16,58 persen, pernyataan ini sangat kontras dengan tim Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Tim P2E-LIPI) yang memperkirakan warga miskin tahun ini akan bertambah menjadi 41,7 juta orang (21,92 persen) pada beberapa bulan kedepan (Juni-Desember 2008). Lonjakan ini akibat kebijakan pemerintah khususnya menaikkan harga BBM sebesar 28,7 persen. Sungguh sangat ironis kondisi ini, Pada Bulan Maret 2008 jumlah penduduk miskin di Indonesia 34,96 juta (15,42 persen dari total penduduk) tapi hanya berselang beberapa bulan saja, khusunya karena kebijakan pemerintah yang bersikukuh menaikkan harga BBM menyebabkan melonjaknya jumlah penduduk miskin secara signfikan sebesar 41,7 juta orang (21,92 persen) atau mengalami kenaikkan sebesar 6,74 juta (6,5 persen), data ini mengisyaratkan bahwa penurunan angka kemiskinan sebesar 2,21 juta dari Maret 2007-Maret 2008 seakan tidak berarti, karena jumlah itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan kenaikkan 6,74 juta (3 kali lipat lebih).

Pemerintah seharusnya lebih peka terhadap kondisi ini. Penduduk Indonesia sangat rentan terhadap kenaikkan harga (sangat elastis), sedikit saja kenaikkan harga, maka akan meningkatkan jumlah penduduk miskin, penduduk miskin adalah penduduk yang garis kemiskinannya Rp 166.700/orang/bulan. Sebelum kenaikkan BBM jumlahnya 34,96 juta. Dengan adanya kenaikkan BBM, hingga bulan Desember 2008 diperkirakan kebutuhan hidup layak bagi tiap individu adalah Rp 195.000/orang/bulan. Kondisi inilah yang menyebabkan melonjaknya angka kemiskinan secara signifikan. Bagaimana tidak, income masyarakat tetap namun kebutuhan hidup secara layak meningkat. Kondisi inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah Pemerintah untuk merealisasikan program-programnya dalam menurunkan angka kemiskinan, khusunya melalui program BLT. Jika program ini tidak tersalurkan secara tepat sasaran maka dampaknya besar terhadap masyarakat miskin, yaitu semakin tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Oleh karena itu, kesungguhan dan kesigapan dari para aparat pemerintah khususnya pada tingkat kelurahan dan kecamatan sangat diperlukan karena sebagai ujung tombak utama yang langsung terjun dan menghadapi masyarakat.

Rangkuman :

Jumlah Penduduk miskin di Indonesia (BPS dan LIPI)
Maret 2008 : 34,96 juta (15,42%)

setelah kenaikan BBM
Juni-Desember 2008 : 41,7 juta (21,92%)

makanya banyak yang protes!!